Selasa, 27 Mei 2008
DARAH KAMI UNTUK NEGERI
Aku, kamu pasti setuju
Negeri ini butuh perubahan
Pertanyaannya kemudian adalah
Perubahan seperti apa?
Tentu saja perubahan ideal layaknya bangsa-bangsa maju.
Perubahan menjadi negeri yang merdeka dan benar-benar berdaulat
Merdeka? Bukankah kita sudah merdeka?
Merdeka berarti bebas dari tekanan
Merdeka berarti bebas dari ancaman
Merdeka berarti bebas bersuara lantang
Merdeka berarti tidak tergantung siapapun
Merdeka berarti bebas dari rasa takut
Merdeka berarti Merdeka!
Sudah merdeka kita?
Apakah ini yang namanya sudah merdeka?
Kau lihat diluar sana saudara kita masih dijalanan
Kau lihat diluar sana saudara kita meringis menahan lapar
Kau lihat diluar sana saudara kita frustasi mendapat sesuap nasi
Kau lihat diluar sana saudara kita tidur beralaskan bumi beratapkan langit
Kau lihat diluar sana saudara kita marah hak-hak nya dirampas
Kau lihat diluar sana saudara kita geram menuntut keadilan
Kau lihat diluar sana saudara kita polos meminta belas kasih
Kau lihat...
Kau sengaja tidak melihat dan tidak mau melihat!
Salah siapa ini semua?
Kamu tanya aku, aku tanya siapa?
Jangan harap negeri ini bisa bangkit kalau kitanya saja tidak mau bangkit
Jangan harap negeri ini bisa maju kalau kitanya saja tidak mau maju
Jangan harap negeri ini bisa terpandang kalau kitanya saja enggan memandang
Jangan harap negeri ini bisa berubah kalau kitanya saja tidak mau berubah
Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu
Tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan untuk negara.
Ada wilayah, ada rakyat dan ada pemerintah, itulah negara
Kurang kaya apa negeri ini?
Kurang banyak apa rakyat negeri ini?
Kurang apalagi pemerintah negeri ini?
Segala sumber daya kita punya
Tapi kenapa kita kelaparan dilumbung padi sendiri
Kita melarat diladang minyak sendiri
Kita ribut dinegeri sendiri
Kita lemah di negeri kita sendiri
Sudahlah kita tinggalkan segala kepentingan pribadi
Sudahlah kita tinggalkan segala kepentingan golongan
Sudah lah kita tinggalkan identitas kesukuan
Kesombongan garis keturunan, keegoisan, keserakahan, kemunafikan,
Tidak ada gunanya!
Klise!
Kau berfikir seperti itu?
Berarti kau yang klise!
Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar
Negara ini bisa menjadi negara yang kuat
Tanah air ini bisa menjadi tanah air yang berdaulat
Negeri ini bisa menjadi negeri yang terhormat
Bersatu & bersinergi!
Tak ada yang tak mungkin dengan dua hal diatas
Sudah saatnya pemerintah introspeksi diri
Jadilah pemerintah yang amanah
Sudah saatnya kita, rakyat instrospeksi diri
Jadilah rakyat yang budiman
Sudah saatnya rakyat dan pemerintah instrospeksi
Jangan terus-terusan memperkosa alam
Dan sudah saatnya sumber daya anugerah Tuhan dengan arif dimanfaatkan pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.
Sadarlah, mari kita bicara dari hati kehati
Siapapun kita, setinggi apapun jabatan kita
Toh kita semua akan mati
Segala yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan
Pemerintah yang kami hormati,
Anda terhormat karena kami
Anda punya kekuasaan karena kami
Kami yang menjadikan Anda terhormat
Kami yang menjadikan Anda punya kekuasaan
Tapi ingat!
Kamilah pemilik negeri ini
Anda hanya diberi amanat untuk mengelola negeri ini, jadi jangan sombong!
Anda teleh menyia-nyiakan amanah kami
Anda telah menyia-nyiakan harapan kami
Anda pengecut!
Kami tak banyak menuntut
Kami tak banyak meminta
Yang kami minta satu..
Sejahterakan kami dinegeri kami.
Jangan salahkan kami
Pemuda kami marah, geram, anarkhi
Itu semua karena Anda
Dan itu yang bisa kami lakukan
Biar Anda tahu betapa kelakuan anda telah menyengsarakan kami
Sekali lagi Anda pengecut!
Kenapa harus kami yang tak berdaya yang harus dibuat tak berdaya lagi
Kenapa bukan para perampok negeri ini yang kau buru, lalu mengembalikan hasil rampokan yang jelas-jelas itu harta kita, untuk kami
Anda cuma berani sama kami, rakyat anda sendiri
Apa namanya kalau bukan pengecut!
Kalau saja Anda seperti apa yang kami inginkan
Kalau saja Anda lebih sayang kepada kami
Tentu kami sejuta kali akan lebih sayang pada Anda
Jika rasa saling sayang itu sudah tercipta
Tercipta pula rasa saling percaya
Yang akan melahirkan energi positif untuk kita
Iran tidak menjadi lemah dengan status embargo
Iran malah kuat karena hal itu.
Pemerintahan yang kuat, tegas, berani dan berdaulat adalah kuncinya.
Ditambah dukungan rakyat adalah pendorongnya.
Kita lemah justru oleh karena kekuatan kita
Kita lemah justru oleh karena Anda yang lembek
Kita lemah justru karena besarnya ketergantungan kepada pihak lain, tidak berdaulat!
Buktikan dulu, Anda sanggup menjawab tantangan ini
Buktikan dulu bahwa Anda sayang kepada kami
Jika sudah
Demi Tuhan,
cinta kami untuk Anda,
darah kami rela tumpah untuk Anda,
untuk kita semua,
untuk bangsa,
negara,
tanah air tercinta!!
Negeri ini butuh perubahan
Pertanyaannya kemudian adalah
Perubahan seperti apa?
Tentu saja perubahan ideal layaknya bangsa-bangsa maju.
Perubahan menjadi negeri yang merdeka dan benar-benar berdaulat
Merdeka? Bukankah kita sudah merdeka?
Merdeka berarti bebas dari tekanan
Merdeka berarti bebas dari ancaman
Merdeka berarti bebas bersuara lantang
Merdeka berarti tidak tergantung siapapun
Merdeka berarti bebas dari rasa takut
Merdeka berarti Merdeka!
Sudah merdeka kita?
Apakah ini yang namanya sudah merdeka?
Kau lihat diluar sana saudara kita masih dijalanan
Kau lihat diluar sana saudara kita meringis menahan lapar
Kau lihat diluar sana saudara kita frustasi mendapat sesuap nasi
Kau lihat diluar sana saudara kita tidur beralaskan bumi beratapkan langit
Kau lihat diluar sana saudara kita marah hak-hak nya dirampas
Kau lihat diluar sana saudara kita geram menuntut keadilan
Kau lihat diluar sana saudara kita polos meminta belas kasih
Kau lihat...
Kau sengaja tidak melihat dan tidak mau melihat!
Salah siapa ini semua?
Kamu tanya aku, aku tanya siapa?
Jangan harap negeri ini bisa bangkit kalau kitanya saja tidak mau bangkit
Jangan harap negeri ini bisa maju kalau kitanya saja tidak mau maju
Jangan harap negeri ini bisa terpandang kalau kitanya saja enggan memandang
Jangan harap negeri ini bisa berubah kalau kitanya saja tidak mau berubah
Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu
Tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan untuk negara.
Ada wilayah, ada rakyat dan ada pemerintah, itulah negara
Kurang kaya apa negeri ini?
Kurang banyak apa rakyat negeri ini?
Kurang apalagi pemerintah negeri ini?
Segala sumber daya kita punya
Tapi kenapa kita kelaparan dilumbung padi sendiri
Kita melarat diladang minyak sendiri
Kita ribut dinegeri sendiri
Kita lemah di negeri kita sendiri
Sudahlah kita tinggalkan segala kepentingan pribadi
Sudahlah kita tinggalkan segala kepentingan golongan
Sudah lah kita tinggalkan identitas kesukuan
Kesombongan garis keturunan, keegoisan, keserakahan, kemunafikan,
Tidak ada gunanya!
Klise!
Kau berfikir seperti itu?
Berarti kau yang klise!
Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar
Negara ini bisa menjadi negara yang kuat
Tanah air ini bisa menjadi tanah air yang berdaulat
Negeri ini bisa menjadi negeri yang terhormat
Bersatu & bersinergi!
Tak ada yang tak mungkin dengan dua hal diatas
Sudah saatnya pemerintah introspeksi diri
Jadilah pemerintah yang amanah
Sudah saatnya kita, rakyat instrospeksi diri
Jadilah rakyat yang budiman
Sudah saatnya rakyat dan pemerintah instrospeksi
Jangan terus-terusan memperkosa alam
Dan sudah saatnya sumber daya anugerah Tuhan dengan arif dimanfaatkan pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.
Sadarlah, mari kita bicara dari hati kehati
Siapapun kita, setinggi apapun jabatan kita
Toh kita semua akan mati
Segala yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan
Pemerintah yang kami hormati,
Anda terhormat karena kami
Anda punya kekuasaan karena kami
Kami yang menjadikan Anda terhormat
Kami yang menjadikan Anda punya kekuasaan
Tapi ingat!
Kamilah pemilik negeri ini
Anda hanya diberi amanat untuk mengelola negeri ini, jadi jangan sombong!
Anda teleh menyia-nyiakan amanah kami
Anda telah menyia-nyiakan harapan kami
Anda pengecut!
Kami tak banyak menuntut
Kami tak banyak meminta
Yang kami minta satu..
Sejahterakan kami dinegeri kami.
Jangan salahkan kami
Pemuda kami marah, geram, anarkhi
Itu semua karena Anda
Dan itu yang bisa kami lakukan
Biar Anda tahu betapa kelakuan anda telah menyengsarakan kami
Sekali lagi Anda pengecut!
Kenapa harus kami yang tak berdaya yang harus dibuat tak berdaya lagi
Kenapa bukan para perampok negeri ini yang kau buru, lalu mengembalikan hasil rampokan yang jelas-jelas itu harta kita, untuk kami
Anda cuma berani sama kami, rakyat anda sendiri
Apa namanya kalau bukan pengecut!
Kalau saja Anda seperti apa yang kami inginkan
Kalau saja Anda lebih sayang kepada kami
Tentu kami sejuta kali akan lebih sayang pada Anda
Jika rasa saling sayang itu sudah tercipta
Tercipta pula rasa saling percaya
Yang akan melahirkan energi positif untuk kita
Iran tidak menjadi lemah dengan status embargo
Iran malah kuat karena hal itu.
Pemerintahan yang kuat, tegas, berani dan berdaulat adalah kuncinya.
Ditambah dukungan rakyat adalah pendorongnya.
Kita lemah justru oleh karena kekuatan kita
Kita lemah justru oleh karena Anda yang lembek
Kita lemah justru karena besarnya ketergantungan kepada pihak lain, tidak berdaulat!
Buktikan dulu, Anda sanggup menjawab tantangan ini
Buktikan dulu bahwa Anda sayang kepada kami
Jika sudah
Demi Tuhan,
cinta kami untuk Anda,
darah kami rela tumpah untuk Anda,
untuk kita semua,
untuk bangsa,
negara,
tanah air tercinta!!
Minggu, 25 Mei 2008
POTRET MAHASISWA KEDOKTERAN MASA KINI
Goresan tinta emas para senior kita dalam perjuangan bangsa nampaknya hanya jadi sejarah dimasa kini, hal tersebut wajar karena memang sudah berlalu. Menjadi tidak wajar ketika semangat perjuangan itu sudah mulai terlupakan dan memudar seiring dengan berlalunya waktu. Jika dilihat secara keseluruhan kondisi mahasiswa kedokteran sekarang nampaknya kurang menyadari arti penting perjuangan senior kita dimasa lalu. Kemajuan zaman berlabel globalisasi yang lebih ke arah westernisasi seakan membius arti penting perjuangan tersebut.
Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa mental sebagai mahasiswa terlebih mahasiswa kedokteran sudah bergeser dari jiwa sosial intelektual menjadi intelektual komersial. Hal ini hanya salah satu efek dari berbagai kausa, diantaranya mahalnya biaya pendidikan untuk kuliah di kedokteran. Para mahasiswa kedokteran kini tidak lagi kaum intelek cerdas pandai tapi siapa saja bisa masuk asal sanggup membayar biaya kuliah sesuai kesepakatan. Akhirnya terbentuklah mahasiswa-mahasiswa parlente penghuni singgasana bernama fakultas kedokteran yang seolah membusungkan dada, bangga!. Bisa dibayangkan efek lanjut dari ini semua, hanya akan menghasilkan generasi dokter yang bukannya berjiwa sosial atas nama rakyat tidak mampu namun malah sebaliknya memeras rakyat tidak mampu berkedok nama besar dokter yang berjiwa sosial.
Survey yang dilakukan pada tahun 2002 didapatkan bahwa student unit cost pendidikan strata dokter adalah sebesar Rp 15,5 juta per mahasiswa untuk satu semester
Biaya fakultas kedokteran yang cukup tinggi tidak ditampik oleh institusi yang berwenang dan penyelenggara pendidikan. Mendidik bibit-bibit bangsa untuk menguasai ilmu medis, perlu biaya yang tidak sedikit, apalagi untuk memenuhi pendidikan yang memenuhi standar. Akibatnya biaya pendidikan yang tinggi pun tidak terelakkan.
“Pendidikan kedokteran memang mahal,” kata Dr. Satya Juwana, SpKJ (K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya. “Ilmu kedokteran berbeda dengan ilmu non eksakta yang yang tidak memerlukan bahan-bahan untuk praktik. Fakultas kedokteran bahkan memerlukan tambahan fasilitas seperti rumah sakit.”
Meski UUD 1945 mengamanatkan bahwa anggaran pendidikan nasional adalah sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, namun kenyataannya hal itu masih sulit dipenuhi. Pidato Presiden 16 Agustus lalu menyatakan, anggaran pendidikan dalam RAPBN 2007 adalah sebesar Rp 51,3 triliun. Jumlah itu, belum mencapai 20 persen dari alokasi anggaran pemerintah yang sebesar Rp 746.5 triliun.
Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. dr. H. M. Syamsulhadi, Sp.KJ juga mengakui bahwa biaya pendidikan saat ini lebih tinggi dibandingkan puluhan tahun lalu.
Syamsulhadi mengatakan, tidak menampik jika ada dokter yang lebih berorientasi pada materi akibat besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menempuh pendidikan. “Semua dikembalikan pada hati nurani yang bersangkutan,” ujarnya. (4)
Gerakan Mahasiswa
Gerakan mahasiswa tetaplah gerakan yang bersifat idealis. Dalam kerangka berfikir yang akademis, maka gerakan ini tetap diperitungkan sebagai gerakan ‘tanpa kepentingan’ yang perlu didukung. Adapun pihak-pihak yang menuduh bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi kepentingan kelompok tertentu, cenderung berasal dari pihak yang dirugikan secara politis. Dalam upaya “Amar makruf nahyi munkar”, pastilah ada yang tergusur yaitu ; kesesatan, kebodohan, dan ketidak adilan. Lantas, dimanakah posisi kita?. Mendukung perbaikan ataukah mempertahankan keburukan? Saya yakin kita akan berpihak kepada perubahan yang baik. Bukan perubahan yang asal-asalan.
Kini, banyak muncul organisasi-organisasi profesi termasuk dokter. Bahkan pada saat menjadi mahasiswa kedokteran pun ada ikatannya sendiri. Masalahnya adalah, apakah organisasi atau ikatan atau apa saja namanya sudah benar-benar meluruskan niat untuk melanjutkan perjuangan senior-senior kita dulu yang lebih pro kepada rakyat tertindas dan bersatu untuk kepentingan bangsa, bukan yang lain?. Dimana motor penggerak untuk menyuarakan hati nurani rakyat, bersuara lantang meneriakan ketidakadilan, menyingsingkan lengann baju untuk bersama dengan ikhlas turun membantu rakyat kecil yang kesusahan, sama sekali tidak terdengar gaungnya!
Demokrasi kini sudah menancapkan kukunya, dimana kebebasan berbicara dan berpendapat sudah sangat bebas sebebas-bebasnya, nama besar serta perjuangan para dokter dalam memerdekakan negeri ini seakan memudar. Seyogyanya hal ini menjadi catatan tersendiri buat kita, mahasiswa kedokteran yang hidup diera globalisasi yang cenderung kearah westernisasi dengan corak hedonisme. Apapun tingkatan periodesasinya sudah seharusnya kita menjadi ”pembawa arus” bukan ”terbawa arus”. Hal ini tidak mustahil, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Memang, begitu berat untuk menentang sebuah arus yang sangat deras apalagi jika hal itu dilakukan secara individual. Satu ikat sapu lidi akan mampu membersihkan sampah yang berserakan dengan cepat dan akurat dibandingkan hanya sebatang sapu lidi.
Pertanyaannya kemudian adalah kemana batang-batang sapu lidi yang lain? Kenapa batang-batang lidi itu masih berserakan? Kenapa batang-batang lidi itu tidak bersatu atau lebih tepatnya disatukan menjadi seikat sapu lidi yang kekar dan kokoh dan siap membersihkan sampah yang berserakan.
Perspektif yang mungkin adalah
1. Kita sibuk dengan urusan kita sendiri, masa depan kita sendiri, nama baik kita dan keluarga sendiri serta apa saja yang berbau kata-kata untuk diri sendiri
2. Lebih jauh budaya chauvinisme, kepentingan kelompok dan golongan serta kepentingan-kepentingan lain kian meruncing dan bersaing ke arah tidak sehat yang pada ujungnya tidak menutup kemungkinan disintegrasi bangsa tak terelakan
3. di luar kepentingan diatas, kita seakan tidak sadar sering melakukan hal-hal diluar dari konteks persaudaraan yang seharusnya tidak terjadi. Banyak sudah kejadian anarki yang seharusnya dapat dihindari dan diselesaikan secara damai dan tidak sampai menimbulkan kerugian baik moril maupun materil bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan. Hal ini sebenarnya sangat disesalkan, mengingat masih banyak sekali pekerjaan rumah yang seharusnya dapat diselesaikan namun energi kita terkuras untuk menyelesaikan masalah tersebut atau setidaknya perhatian kita tertuju pada permasalahan tersebut, yang seharusnya dicurahkan untuk hal yang lebih krusial.
Saatnya berubah!
Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan ke arah yang lebih baik, hendaknya perubahan itu dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini. Tiada suatu yang besar tanpa dimulai dari yang kecil, tiada yang bisa memulai selain diri kita sendiri, tiada hasil dimasa depan tanpa dimulai langkah kecil dihari ini.
ketiga perspektif diatas bukan tidak dapat dihindari, hanya saja kita tidak sadar siapa diri kita, untuk apa kita hidup? Lebih jauh rasa nasionalisme kita nampaknya sudah mulai terkikis label globalisasi, kita juga tidak sadar bahwa sekarang sebagai mahasiswa kedokteran seharusnya kita menjadi agent of health, agent of change and agent of development.
Jangan sampai kita menjadi buih dilautan, banyak tapi mudah terhempas ombak. Lanjutkan cita-cita mulia para pendahulu kita.
Mahasiswa Kedokteran Untuk Bangsa, antara Sejarah dan Realita
Mahasiswa adalah agen intelektual karena dibesarkan dikampus yang juga berisi kaum intelektual. Karena ke-intelektual-an nya itulah predikat sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial sudah menjadi paket yang tak dapat dipisahkan. Jiwa muda mahasiswa membawa ia sebagai garda terdepan berteriak lantang tak rela melihat rakyat yang tertindas, nasionalisme yang tinggi dan berjuang tanpa tendensi menjadikan mahasiswa pilar penegak demokrasi dan penentu arah perjalanan bangsa.
Momentum 100 tahun kebangkitan nasional seakan menyadarkan kita satu hal bahwa bangsa ini dimulai dari perjuangan mahasiswa, tepatnya mahasiswa kedokteran yang pada waktu itu bernama STOVIA.
Kontribusi besar mahasiswa kedokteran untuk kemajuan bangsa dan negara nampaknya tinggal kenangan jika dibenturkan dengan sistem pendidikan dokter sekarang. Sistem yang ada telah membuat mahasiswa kedokteran tidak punya banyak waktu untuk membicarakan atau mendiskusikan hal-hal yang menyangkut kepentingan bangsa dan negaranya. Ditambah lagi budaya westernisasi sebagai imbas dari dimensi global yang sedang menginvasi hampir seluruh lini kehidupan semakin membuat mahasiswa kedokteran lupa akan tugas mulia sebagai seorang mahasiswa terlebih mahasiswa kedokteran yang punya catatan sejarah gemilang.
Dapat dibilang, mahasiswa kedokteran adalah parameter kaum intelektual diindonesia. Namun apa yang terjadi sekarang sudah timbul degradasi, baik oleh karena terjadi dengan sendirinya maupun yang dikhawatirkan bahwa degradasi ini terjadi ’by design’. Kekhawatiran tersebut sangat beralasan mengingat peran mahasiswa kedokteran yang selalu menjadi ujung tombak perjuangan dinegeri ini. Nampaknya kita harus waspada jangan sampai pihak-pihak yang tidak senang melihat kemajuan bangsa ini sebisa mungkin membuat tumpul ujung tombak itu, mahasiswa kedokteran.
PBL adalah suatu sistem pendidikan kedokteran bermodel student center yang dipandang bisa menggantikan sistem konvensional yang bermodel teacher center. Dalam pelaksanaannya mahasiswa dipacu untuk aktif karena penilaian dilakukan berdasarkan keaktifan, mahasiswa selanjutnya hanya menjadi buruh-buruh intelektual atas nama kompetensi. Sistem ini pun kemudian diterapkan dihampir semua fakultas kedokteran diindonesia. Ada yang salah dengan sistem ini? Tentu tidak dari segi general! Tapi mari kita kaji lagi lebih mendalam jika konteksnya dikaitkan dengan peran dan fungsi mahasiswa.
Atas nama kompetensi, seluruh energi dan perhatian mahasiswa terfokus ke akademik dan hanya sedikit mahasiswa yang sadar peran serta fungsinya sebagai mahasiswa sang pembawa agen intelektual, agen sosial kontrol dan agen perubahan. Hal ini tercermin dari semakin kecilnya keinginan mahasiswa bergabung dalam lembaga kemahasiswaan. Kalaupun banyak hanya awalnya saja dan seiring berjalannya waktu berguguran satu persatu dengan alasan yang sangat klasik, akademik! Lantas bagaimana nasib mereka yang masih bertahan dilembaga kemahasiswaan? Hanya mahasiswa yang ingin maju dan penuh dedikasi serta punya idealisme yang tinggi yang bertahan, namun lagi-lagi semangat itupun sirna ketika disatu titik terbentur satu hal, akademik! Kalaupun berani untuk menghindar dari itu semua dan mendapatkan izin demi menjalankan tugas kemahasiswaan diluar akademik, proses dibelakang itu akan sangat panjang sekali dan nampaknya dosen yang bersangkutan tidak mau tahu.
Lebih ironis lagi ketika banyak nya kegiatan kemahasiswaan dikeluhkan baik oleh dosen maupun pimpinan fakultas. Bukankah seharusnya menjadi suatu kebanggaan dimana mahasiswa berperan aktif dalam lembaga kemahasiswaan dan bukankah juga dengan banyak nya kegiatan menandakan mahasiswa itu ’hidup’ yang sadar ataupun tidak imbasnya positif terhadap nama besar fakultas.
Selain hal diatas, mahalnya biaya pendidikan untuk kuliah di kedokteran juga menjadi salah satu indikasi ’by design’. Para mahasiswa kedokteran kini tidak lagi kaum intelek cerdas pandai tapi siapa saja bisa masuk asal sanggup membayar biaya kuliah sesuai kesepakatan. Akhirnya terbentuklah mahasiswa-mahasiswa parlente penghuni singgasana bernama fakultas kedokteran yang seolah membusungkan dada, bangga!. Bisa dibayangkan efek lanjut dari ini semua, hanya akan menghasilkan generasi dokter yang bukannya berjiwa sosial atas nama rakyat tidak mampu namun malah sebaliknya memeras rakyat tidak mampu berkedok nama besar dokter yang berjiwa sosial. Dan tentu saja terjadi pergeseran nilai dari jiwa sosial intelektual menjadi jiwa intelektual komersial.
Masih banyak yang dapat diangkat untuk mengindikasikan bahwa ini semua adalah ’by design’ hanya para designer dan Tuhan lah yang tahu, yang jelas budaya kapitalisme dan neoliberalisme berusaha untuk menjegal kaum intelektual untuk lebih peduli lagi terhadap nasib bangsa dan negaranya dengan jalan mempersempit ruang untuk itu.
Mari rekan-rekan ku sesama mahasiswa atau siapa saja para pemegang kebijakan kita sama-sama sadari dan mulai mengkaji lebih dalam ini semua. Mudah-mudahan ini hanya indikasi yang kebenarannya terbukti lain, dan beri ruang kepada kami para mahasiswa untuk lebih berperan serta secara nyata dan memberi warna tersendiri bagi perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik. Bukankah perubahan hanya akan terjadi jika kita menginginkan dan berjuang untuk perubahan itu.
Rabu, 07 Mei 2008
Hamba rindu...
Hamba rindu mendengar penggilanMu
Hamba rindu melangkah kerumahMU
Hamba rindu bersujud di sepertiga malamMu
Hamba rindu membaca FirmanMU
Hamba rindu berdzikir kepadaMU
Hamba rindu ada dibawah naunganMU
Hamba rindu mengagungkan rasulMU
Hamba rindu ikhlas karenaMU
Hamba rindu beramal karenaMU
Hamba rindu tersenyum karenaMU
Hamba rindu jujur karenaMU
Hamba rindu menangis karenaMU
Hamba rindu menjadi hambaMU
Hamba rindu mendengar penggilanMu
Hamba rindu melangkah kerumahMU
Hamba rindu bersujud di sepertiga malamMu
Hamba rindu membaca FirmanMU
Hamba rindu berdzikir kepadaMU
Hamba rindu ada dibawah naunganMU
Hamba rindu mengagungkan rasulMU
Hamba rindu ikhlas karenaMU
Hamba rindu beramal karenaMU
Hamba rindu tersenyum karenaMU
Hamba rindu jujur karenaMU
Hamba rindu menangis karenaMU
Hamba rindu menjadi hambaMU
Langganan:
Postingan (Atom)
